Apa yang maksud dengan mihing???
Begitu banyak benda-benda sejarah yang digunakan oleh orang jaman dahulu
khususnya di kalimantan tengah yang sangat berguna dan bermanfaat bagi
masyarakat tanah dayak baik benda-benda yang bersifat sakral atau benda yang biasa
digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seiring dengan kemajuan jaman sehingga
banyak sekali budaya luar masuk secara khusus di tanah dayak ini menyebabkan
tatanan sosial dan budaya berubah secara perlahan-lahan sehingga adat istiadat budaya
nenek monyang pada jaman dahulu sering terlupakan entah itu karena sudah lama sehingga
hanya orang-orang tertentu yang mengetahui kebudayaan tersebut atau karena
terlalu bayak kebudayaan baru yang lebih moderen sehingga kebudayaan dan cara
yang lama ditinggalkan, salah satunya
adalah budaya dayak pada masa lalu yaitu menangkap ikan dengan menggunakan
mihing,
Mihing ini merupakan benda sakral yang digunakan oleh orang dayak pada masa
lalu untuk menangkap ikan,mihing dikatakan benda sakral karena bahannya dibuat
dari kayu yang mempunyai fungsi dan arti tersendiri sehingga ikan-ikan bisa
masuk ke dalam mihing tersebut.
Penulis mencoba
membahas tentang mihing dengan berbekal dari berbagai sumber yang penulis
dapatkan, yang tentunya penulis harapkan semoga dapat bermanfaat bagi kita semua, selamat membaca.
Sejarah Asal
dan Fungsi Kegunaan Mihing
Menurut tetek tatum, bahwa tiga abad yang lalu, seseorang
yang bernama
Bowak
dan tinggal di kampung tumbang lukan (sekarang nama kampung itu tumbang danau)
yang hidup di tepi sungai kahayan hulu, tiap-tiap hari bekerja untuk
menyediakan makanan babi milik majikannya. Setiap hari sambil mencincang batang
pisang dan keladi, bowak bernyanyi yang kata-katanya menyatakan bahwa setiap
hari tak henti-hentinya ia mencincang tambun yang bersisik emas. Nyanyiannya
terdengar oleh penguasa lewu telu yaitu alam gaib yang bernama rawing.
Panglima rawing datang
menemui bowak dan membawanya ke lewu telu sebagai tawanan yang mereka
pergunakan untuk menagkap berung tingang dan tambun (ikan lele), setelah
selesai tugasnya lalu diturunkan ke dunia. Sejak itu bowak tinggal di lewu telu
sambil mengawasi keadaan. Menurut bowak, orang-orang yang tinggal di alam
gaib (lewu telu) mempunyai senjata yang
terbuat dari besi yang ringan dan terapung di atas air. Di tempat tinggal
mereka di lewu,yang mereka katakan burung tingang ialah semacam burung pipit di
dunia yang sangat banyak dan mudah kita temukan,dan tambun adalah sejenis ikan
lele di dunia. Pada saat itu orang di lewu telu mengadakan suatu upacara
mendirkan mihing mereka sangat ramai mencari kayu-kayuan yang mereka pergunakan
untuk mendirikan mihing, lalu mereka menyuruh bowak menangkap burung tingang
dan tambun (ikan lele) sebagai salah satu bahan yang mereka gunakan dalam
mendirikan mihing,setelah peralatan bahan-bahan untuk mendirikan sudah lengakap
lalu mereka mulai mendirikan mihing, mereka khawatir sekali kalau apa yang
mereka lakukan dilihat bowak, karena itu mereka mengurung bowak dan ditutupi
dengan kajang (dinding yang dibuat dari daun tumbuh-tumbuhan) agar bowak tidak
dapat melihat apa yang tengah dikerjakan. Kemudian mereka menanyakan kepada
bowak apakah bowak dapat menyaksikan proses pembuatan yang sedang dilakukan.
Dengan tertawa bowak menjawab bahwa ia dapat menyaksikan dengan jelas semua
pembuatannya. Mereka mengira bahwa sungguh-sungguh bisa menyaksikan proses
pembuatan tersebut, maka mereka mengganti penutup dengan jala yang tanpa mereka
sadari bowak akan dapat menyaksikan proses pembuatan dengan semakin jelas.
Mereka menanyakan kepada bowak, apakah bowak dapat menyaksikan apa yang mereka
lakukan. Bowak menjawab sambil menangis bahwa ia tidak melihat dan menyaksikan
apa-apa. Mereka tidak meyadari bahwa semua itu hanyalah akal bulus bowak untuk
dapat melihat proses pembuatannya.
Bowak terheran-heran
menyaksikan bagaimana mereka membuat mihing. Setelah selesai pembuatannya,
bowak meliha harta benda (panatau panuhan) orang jaman dahulu diantaranya guci,
halamaung, balanga, gong, emas, perak, intan serta permata lainnya,masuk ke
dalam mihing tersebut yang kemudian mereka bersantap bersama dan menyambutnya
dengan riang gembira. Beberapa hari kemudian, mereka mengembalikan bowak ke
dunia dan membekali bowak dengan sebagian harta benda sebagai upah bowak.
Di dunia
bowak mencoba mulai mendirikan mihing seperti apa yang pernah ia lihat di lewu
telu. Mihing yang setelah selesai dibuat diletakan di halaman rumah bowak, tanpa
diketahui dari mana datangnya, mihing yang berada di halaman bowak penuh
berisi harta benda (panatau panuhan) yang terdapat di muka bumi, bahkan harta benda
(panatau panuhan) lewu telu juga berguguran masuk ke dalam mihing bowak.
Melihat keadaan yang demikan, penguasa lewu telu marah besar, lalu turun ke
bumi dan langsung menerjang mihing milik bowak yang mengakibatkan mihing bowak
terpelanting jauh dan jatuh ke dalam sungai. Dengan demikian masuklah
berjenis-jenis ikan ke dalam mihing bowak, sejak saat itu suku dayak kahayan
mempergunakan mihing tersebut sebagai alat pengkap ikan karena tidak dapat
untuk mengambil harta benda
Bentuk Bangunan
Mihing
Bentuk
bangungunan mihing seperti bangunan rumah tetapi tidak beratap dan tidak berdinding. berlantai
dibuat dari bambu yang dijalin. Dari muka ke belakang semakin tinggi dan
sempit, ujungnya dinamakan anjung-anjung. Tiang di muka dinamakan kaja banuang,
tawe tabulus, dibuat seperti patung dengan maksud dapat berbicara dan mengundang segala jenis
ikan untuk maja (bertamu) ke tempat itu. Tiang no 2 di atas didirikan dari kayu
tabulus, dibuat seperti patung juga agar dapat mengucapkan palus yang artinya
masuk. Dan kayu-kayu yang lain terbuat dari kayu manang, kayu tuah, kayu
langkah, kayu kajunjung, kayu tali,kayu marit, kayu busi, kayu kanaruhung, haur
bahenda,haur bahijau dan lain sebagainya yang mempunyai arti dan makna yang
sangat berfungsi untuk mendirikan mihing,dan yang tidak kalah pentingnya adalah
rotan yang dipakai untuk menjalin dan tidak boleh dipotong, dibiarkan terurai
ke dalam air.
Cara Mendirikan
Mihing
Mihing didirikan
pada musim kemarau, pada tempat yang agak dangkal tetapi berarus deras,
menghadap arah hulu dan buntutnya kehilir. Bila musim hujan tiba dan air mulai
pasang, lantai mihing tergenang air, di saat itulah ikan-ikan dengan segala
jenis baik besar maupun kecil masuk ke
dalam mihing.
Kesimpulan
Mihing pada
mulanya adalah alat orang di lewu telu untuk menakap harta benda (panatau
panuhuan),saat itu bowak meniru pembuatan mihing orang lewu telu
di dunia ini dan semua harat benda pun tertangkap oleh mihing bowak
bahkan harta benda di lewu telu,oleh karena itu penguasa lewu telu marah besar
dan mihing bowak diterjang dan terpelanting jauh hingga ke dasar sungai dan masuk lah berbagai jenis ikan ke
dalamnya,saat itulah mihing digunakan oleh oleh orang di dunia ini untuk
menangkap ikan
Bentuk
bangungunan mihing seperti bangunan rumah tetapi tidak beratap dan tidak berdinding. berlantai
dibuat dari bambu yang dijalin. Dari muka ke belakang semakin tinggi dan
sempit, ujungnya dinamakan anjung-anjung
Mihing didirikan
pada musim kemarau, pada tempat yang agak dangkal tetapi berarus deras,
menghadap arah hulu dan buntutnya kehilir. Bila musim hujan tiba dan air mulai
pasang, lantai mihing tergenang air, di saat itulah ikan-ikan dengan segala
jenis baik besar maupun kecil masuk ke
dalam mihing.
B.
Semoga makalah ini bisa bermanfaat
untuk kita dalam menambah wawasan dan pengetahuan kita tentang mihing alat
penangkap ikan orang dayak pada masa lalu
Akhir kata
penulis ucapkan terima kasih
sumber
Riwut, Tcilik
(2007). Kalimantan Membangun Alam Dan
Kebudayaan, Yogyakarta penerbit : NR publishing,
Apakah ada hubungan Mihing yang dibuat Bowak di Tumbang Danau Sungai Kahayan dengan Batu Mihing yang ada di Sungai Bale Malaysia..?
BalasHapus